Sejarah Desa

SEJARAH DESA TREMAN

Awal Mula Perjalanan (Tahun 1525: Walantakan ke Kelewer)

Sejarah Desa Treman bermula pada pertengahan tahun 1525. Sekelompok masyarakat kecil dari wilayah Walantakan (yang saat ini dikenal sebagai Tonsea Lama) memutuskan untuk mencari wilayah pemukiman baru. Perjalanan ini dipimpin oleh para tokoh adat terkemuka, yaitu Dotu Lengkong, Dotu Wulur, dan Dotu Rensina, serta didampingi oleh Tonaas Paruntu dan Tonaas Makalew.

Rombongan tersebut berkelana ke arah utara dengan menyusuri aliran Kali Sawangen. Setelah menempuh jarak kurang lebih 22 kilometer dari Walantakan, mereka menemukan sebuah tempat potensial dan memutuskan untuk menetap. Tempat pertama ini mereka namakan “Kelewer” (sekarang dikenal sebagai Deposela). Secara geografis, Kelewer terletak pada 15 Lintang Utara, berbatasan dengan Pegunungan Dumbean di sebelah selatan dan daerah rawa serta Sungai Samidow di sebelah utara. Kondisi wilayah rawa yang dialiri Sungai Sawangen ini dinilai sangat cocok untuk dijadikan area persawahan.

Pengembaraan Mencari Restu (Tahun 1532 – 1546: Keraris hingga Tengat Watu)

Setelah 7 tahun menetap di Kelewer, para pemimpin adat rutin melaksanakan ritual suci untuk memohon petunjuk kepada Opo Empung (Tuhan Yang Maha Esa). Melalui perantaraan isyarat burung Manguni (Doyot), mereka mendapatkan petunjuk bahwa tempat tersebut belum direstui sebagai pemukiman abadi. Oleh karena itu, pada tahun 1532, rombongan kembali bergerak ke arah utara dan tiba di suatu tempat yang dinamakan “Keraris”.

Karena merasa kurang betah dan mengalamu berbagai kecocokan, mereka kembali berpindah ke arah timur menuju sebuah tempat bernama “Tengat Watu” (saat ini menjadi wilayah Perkebunan Eris), yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Keraris. Nama “Tengat Watu” diambil dari bahasa daerah Tonsea yang berarti “Lesung Batu”, merujuk pada peninggalan sejarah berupa lesung yang terbuat dari batu di wilayah tersebut.

Namun, penderitaan belum berakhir. Pada tahun 1546, karena banyaknya gangguan seperti wabah penyakit, rombongan keluarga ini meyakini bahwa wilayah Tengat Watu pun belum mendapat restu dari Opo Empung. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur.

Lahirnya Nama “Tareuman” (Tahun 1546: Lembah Pemukiman yang Direstui)

Perjalanan sejauh 1,5 kilometer ke arah timur membawa mereka ke sebuah kawasan bernama “Tongkeina”. Wilayah ini membujur dari utara ke selatan, diapit oleh Sungai Sawangen di sisi selatan dan sebuah kali kecil di antara dua tebing di sisi barat. Di tempat baru ini, kehidupan rombongan pimpinan Dotu Lengkong, Dotu Rensina, dan Tonaas Makalew mulai berkembang pesat dan menunjukkan tanda-tanda kemakmuran.

Melalui ritual adat mendalam, isyarat dari burung Manguni akhirnya memberikan jawaban pasti bahwa tempat ini telah dikabulkan dan direstui oleh Opo Empung. Pernyataan syukur ini diabadikan dalam ungkapan bahasa daerah:

“Tareuman Kinalelean Ni Opo Empung Umpamikiwean”

Dari ucapan Dotu Lengkong inilah lahir nama resmi kampung mereka, yaitu “Tareuman”. Saat ini, lokasi pemukiman awal tersebut dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Minawanua (bekas kampung/desa). Sebagai buktinya, hingga kini di tempat tersebut masih tersimpan situs sejarah berupa kuburan tua, waruga-waruga (termasuk Waruga Dotu Lengkong), serta bekas benteng pertahanan alami berupa batu-batu besar dan rumpun bambu berduri melingkar yang sangat unik.

Menuju Pemukiman Abadi (Tahun 1706 – 1801: Terbentuknya Desa Treman)

Masyarakat Tareuman hidup dan berkembang di Minawanua selama kurang lebih 160 tahun. Seiring bertambahnya populasi, pada sekitar tahun 1706, posisi pemukiman perlahan-lahan bergeser sedikit ke arah utara ke wilayah yang disebut “Tareuman Unet / Pinecisan”.

Setelah bermukim di sana selama sekitar 40 tahun, gelombang perkembangan penduduk yang semakin besar kembali mendorong pergeseran wilayah. Pada tahun 1801, sebagian besar rombongan masyarakat memutuskan menetap di area baru sebelah utara yang mereka namakan “Tareuman Wangko” (Tareuman Besar). Pemukiman inilah yang menjadi tempat tinggal abadi dan kekal bagi anak cucu mereka hingga saat ini, yang seiring berjalannya waktu dan perubahan dialek pelafalan dikenal secara resmi sebagai Desa Treman.

PERANGKAT DESA

PEMERINTAH DESA TREMAN

Desa Treman

Kec. Kauditan Kab. Minahasa Utara

Scroll to Top